Rabu, 08 Oktober 2008

VICTIM

Mau ketawa rasanya begitu dengar dari radio RRI kalau si primbon berjalan itu bilang “duh sorry gue belum mau serius”. Rasanya mau flash back ke beberapa bulan yang lalu trus balik lagi ke masa depan sambil bawa kaca yang setinggi badan tuh orang. Bukan lagi kalimat “who the hell are you” or “what the fuck are you talking about” or “have you educate your brain” yang akan gue katakan kalau seandainya kalimat itu terdengar secara live di kuping gue, demi dewa – dewi yang di puja agama lain banci aja masih jauh lebih baik dari si primbon berjalan itu.

“OMG, kayaknya dia kebanyakan ngayal deh!”
“I can show you his message....”
“and I’ll transgender if he could say it in here”
“haaaa’.. lu sebut apa dia kemarin”
”Banci kaleng aja masih ngaku kalo dia punya titiiiiittttt!!”
”booo.. otak sama kelaminya aja salah tempat”

Sepertinya ini bagian karma sisa – sisa begajulan tahun kemarin yang sukses dengan 4 ”victims” yang berasal dari almamater yang sama sebut aja Fat Boy never Slim’99, Beruang Kutub’00, Primbon Berjalan’97, dan Prince Charming’98 yah kira – kira begitu urutannya. Ketiga diantaranya masih dalam kondisi stabil, sedangkan sisanya masih ngayal dan berharap kalo mahkamah agung akan mengetokan palunya dan menyatakan bahwa dialah yang dikejar – kejar.

Setelah berjaya dengan beberapa ”victims”, gue mencoba peruntungan nothing to lose pada seorang pria yang membuat gue lupa scenario. Kedatangannya seperti superstar dalam iklan FANTA dengan backsound ”you are my sunshine”, gue gak pernah kebayang bahwa nantinya ada seorang pria yang dengan iklas datang dengan tulisan di jidat “ do you want a challenge?”, wangi tubuhnya beraromakan “taste me” tatapannya mengisyaratkan “a story that you’ll never regret and forget” dan suara yang mengatakan ”dont doubt me in bed”. At that time I feel that He such a god damn partner that I’ve been looking for. Well, in my opinion memiliki pengalaman dengan lawan jenis itu bukan lah hal yang tabu untuk di lakukan oleh seorang perempuan. Pada era sekarang perempuan berhak memliki ide yang sama seperti laki – laki dalam menjadi partner hidupnya. Yah salah satu caranya itu melihat kedalam pintu – pintu yang tersedia, kita pastinya gak mau donk beli kucing dalam karung.

But in fact, he is devil from beginning until end of relationship. Prinsip hajar miring gwe tekankan dalam menghadapi mahluk yang satu ini. Hajar aja sama statusnya yang summer liven, hajar aja sama perempuan yang rela beracting melankolis hanya untuk membuat dia tinggal, hajar aja sama segala perbedaan prinsip religius, hajar aja sama pola pikir yang bertipikal doktrinisasi but open minded itu, hajar aja sama gaya seksualnya yang meresahkan G-spot2x yang tersebar dan hajar aja sama tanda tanya – tanda tanya yang berkembang di kalangan intern. Kalo kata Tukul sih “itu ndulu” dengan logat jawanya. Now, no more sense of hajar miring lagi, sejak gue menemukan kedoknya yang mulai kesempitan dan perlahan – lahan memaksa gue untuk sadar bahwa the true in fact is he such not a god damn partner to share with.

“Heh, asal lu tau yah, BANCI KALENG aja masih lebih bertititttttt… dari pada lo!”

I was so angry at that time, he dumb me for an unfortunately reason. Dia bilang bahwa 36b tidak sama dengan 34a dan “bitch” tidak sama dengan “slave”, dengan kata lainnya untuk mewakili segala kebahagiaan yang dia dapatkan dari gue dan untuk setiap keinginan yang dia inginkan dari gue tidak akan pernah terwujud. Karena dia tetap memilih untuk terpasung dalam wanita yang menjadi an unfortunately reason dan menghempaskan gue yang dia proklamirkan sebagai kebahagiaannya. Kelihatannya sih “what a sweet and sad story” , tapi coba deh dianalisa lagi. Kalo aja waktu itu gue berpikir jernih, harusnya sudah gue tinggalin aja si primbon berjalan itu sebelum kamuflase – kamuflase bernapaskan romantisme itu ada di depan mata gue dan mengibaskan wangi menyesatkan.

“Telat!! He was a horrible listed person yang berhasil membalikkan posisi gue menjadi seorang victim”.
“hey, GUE pikir lu dah tau”
“iya tau, but somehow I can’t stop this passionate to make him mine!”
“gue pikir itu passionate bagian bawah deh!"
"ya kadang.. lu kan tau Otaknya sekitaran itu.. wahhhaaa..."
"get over it, dear....."

Di minggu – minggu pertama, semuanya seperti efek letusan nuklir, kacau, semuanya seperti lari – lari, gak ada kehidupan dan berbicara seperti layaknya orang yang meracau alias gak berjalan dengan lancar. Gak ada yang percaya bahwa semua lagu mellow pernah ada di top list MP3 player gue dan bertahan selama berbulan-bulan, mungkin kalo lagunya LYLA – takkan ada bisa ngomong pasti dia udah bilang “STOOOPPPP!!, you’d better stop it or I change the lyric…” sounds ridiculous hah! Tapi itu memang terjadi, untuk beberapa saat Cuma ada dua kata yang bisa mewakili seluruh perasaan yang terasa seperti efek letusan nuklir itu “sepi dan hilang”, dua kata yang keterlaluan. Mungkin ini juga yang dialami para “victims” yang lain atau jangan – jangan ini semua akumulasi sumpah serapah mereka ketika gue memutuskan pergi.

Gue sadar bahwa semuanya jadi sedikit susah untuk me-reposisi semua seperti sedia dulu lagi dan butuh banyak waktu untuk bisa membuat sisa - sisa rongsokan bekas letusan nuklir itu hilang dari peradaban. Tapi setidaknya gue belajar lagi bahwa apapun itu bentuknya dan bagaimanapun itu hasil akhirnya, yang terpenting adalah bagaimana kamu menyikapinya karena hidup ini sebuah perjalanan yang akhirnya sudah tercatat dalam catatan langit. Gue sekarang jauh lebih baik untuk melihat yang sebenarnya terjadi, gak perduli apakah kemarin itu berupa kamuflase atau memang perasaan yang sebenarnya, tapi bagi gue yang terpenting adalah bagaimana gue mengenal perasaan gue sendiri. Gak peduli juga terhadap apa yang akan lu katakan tentang gue dimasa itu karena yang terpenting bagi gue adalah satu kali lagi kesempatan untuk terlepas dari beli kucing dalam karung.

“pusss… meooonnnggggg”
“sssshhhhhhh…. Sssszzzzhhhhh..”
ANJRIIIITTTTT, siapa nihh yang naruh uler sanca dikarung guee..!!!!”
"sshhhzzzz... zzzhhhhsss..."

Tidak ada komentar: