Kamis, 09 Oktober 2008

the Sawarna Beach

Sekitar jam 10 malam kami (Read: Komunitas “gak Jelas”) berangkat menuju Sawarna dari Mal Slipi Jaya. Rombongan kami ada sekitar 26 orang, empat orang laki – laki dari rombongan kami sudah berangkat lebih dulu dengan full adventure physical and mind dan bertemu dengan kami di sekitaran alun – alun cilegon dengan menggunakan vespa, motor trail dan motor Honda jadul yang gak jadul CB 100 (Read : endah bilang itu bukan tulisan sebenarnya). Sedangkan selebihnya terbagi dalam dua kendaraan roda empat, Elf dan APV. Kebetulan saya sendiri berada di rombongan mobil APV bersama kedua teman yang sebelumnya bertemu di trip Baduy (Read : Jainer and Mba Ida).

Separuh perjalanan saya habiskan dengan tertidur pulas sambil sesekali terbangun untuk melihat kondisi jalan dan daerah yang kami lewati. Dan akhirnya setelah kurang lebih 9 jam perjalanan dengan kendaraan roda empat kami tiba di TPI Sawarna, kecamatan Bayah, kabupaten Lebak. Awal hari kami dikawasan itu disambut dengan udara pagi yang sejuk dan bersih serta hutan yang berbaris di kiri dan kanan jalan. Sejenak rombongan kami berhenti sejenak di lokasi itu untuk sekedar mengeluarkan ekspresi narcis kami di depan kamera. Kebetulan di rombongan kami ada banyak orang yang hobi mengabadikan baik keindahan alam dan hobi narcis kami yang luar biasa (Read : Thanks to Mas – Mas Photographer).

Setelah puas berfoto – foto dan menikmati indahnya pepohonan dan pantai sawarna yang terlihat dari kejauhan, kami mengambil backpack kami untuk melanjutkan perjalanan kami ke pantai sawarna dengan berjalan kaki menuruni bukit yang sedang dalam tahap konstrusi pembuatan jalanan beraspal. Setibanya dibawah, rombongan sudah ditunggu dengan mobil bak. Ini pertama kalinya saya menaiki mobil berkap terbuka seperti supporter persija, saya benar – benar menikmatinya . Tidak lupa sebelum berangkat ke tujuan, kami abadikan dulu moment ini. Jarak dari tempat kami menaiki mobil bak ke tempat tujuan tidak begitu jauh, di selama perjalanan mata kami tak henti – hentinya mendapati keindahan alam dan suasana pantai. Pohon kelapa bertebaran di mana – mana, angin bertiup dengan kencang, langit berwarna biru cerah, deburan air laut terdengar samar, dan pantai sawarna yang terlihat dari kejauhan. Nampaknya bukan hanya tim kami yang ingin menikmati indahnya sawarna, karena sepanjang jalan menuju pantai kami menemukan sekelompok besar komunitas photography yang nampaknya juga berniat mengeksplore keindahan Sawarna.

Akhirnya kami sampai juga di gerbang menuju desa yang berada di area pantai sawarna, untuk memasuki desa tersebut kami terlebih dahulu harus melewati sungai dengan jembatan kayu gantung yang goyangannya lumayan membuat kami panik. Setibanya di rumah – rumah penduduk kami beristirahat sebentar untuk melepas lelah perjalanan dan menikmati sarapan pagi bersama. Sekitar jam 10 pagi kami mulai berjalan ke pantai yang tak jauh dari rumah penduduk dan memang benar, setibanya di pantai saya tidak bisa berhenti untuk mengatakan “WOW..”. Sawarna memang pantai yang belum tersentuh pengembang – pengembang kelas kakap. Memang airnya tak sejernih pantai padang – padang atau pantai yang tidak mungkin di Bali (Baca trip ke bali deh), tapi eksotisme pantai berpasir putih ini boleh lah diadu.

Perjalanan kami tidak berhenti di situ saja, setelah puas bermain dengan air laut dan bercengkrama di atas pasir kami mulai melanjutkan perjalanan kami menyusuri arah Barat pantai Sawarna. Pasir putih sawarna tidak begitu panjang, pantai itu juga terdiri dari batu – batu dan karang. Batu layar namanya, batu tersebut berdiri kokoh dan tinggi seperti layar sebuah kapal berwarna krem keemasan saat diterpa sinar matahari serta hitam lumut diatasnya.Setelah puas berfoto dan menikmati makan siang, kami melanjutkan lagi perjalanan menyusuri pantai, kami harus berjalan dengan hati – hati karena kali ini medannya lebih berbatu dan berkarang tak jarang kami harus berlompat – lompat untuk menghindari bulu babi atau bintang laut yang seperti cacing laut berwarna hitam sambil berhenti sesekali untuk menikmati keindahan pantai yang masih alami.

Sesampainya kami di tanjung lesung, kami harus berlarian karena cuaca mulai tidak mendukung perjalanan kami. Hujan perlahan turun dan lama kelamaan mulai deras, kami semua berteduh di sebuah gubuk nelayan. Sayang sekali hujan turun, padahal kami hendak bermain lagi di pantai tanjung lesung. Ketika hujan mulai reda, kami melanjutkan perjalanan kami pulang kerumah penduduk melewati bukit dan pematang sawah. Selama perjalanan saya sempat bertanya dengan salah satu penduduk lokal yang menemani perjalanan kami, ternyata tanaman padi yang mereka tanam itu merupakan produk instan 3 bulan. Di daerah mereka sudah jarang sekali yang menanam padi selain padi produk instan.

Hari sudah sore ketika kami tiba di rumah penduduk, kami pun disambut dengan kelapa – kelapa hijau yang siap untuk segera disantap. Salah satu teman kami, memakan buah kelapa itu dengan cara yang unik. Terlebih dahulu dia menghabiskan air kelapanya baru kemudian dia belah, dikerok dan ditaburi gula pasir, enak banget. Kami menikmati sore itu sambil menikmati kelapa, melihat hasil jepretan kamera kami dan berfoto ria dengan Bule Portugal yang sedang mampir ke warung tempat kami tinggal.

Malam pun tiba, kami berkumpul dan menikmati hidangan makan malam. Kali ini hidangannya berupa ikan layur yang diasapkan. Ikan ini seperti candu buat saya, rasanya yang gurih dagingnya yang lembut serta wanginya yang khas membuat saya lupa kalau saya sudah makan tiga potong ikan layur, hehehe.. Sayang, malam ini langit mendung tak berbintang jadinya rencana kami tidur di pantai sambil menatap bintang terpaksa di pending dulu sampai waktu dan tempat yang tidak dapat ditentukan.

Keesokan harinya yang merupakan hari terakhir kami disawarna, Team leader kami Ridwan mengajak kami semua untuk caving di sebuah Goa yang katanya penduduk lokal, kalau saja kita punya banyak waktu untuk bercaving ria maka dalam waktu kurang lebih 6 jam kita akan sampai di sukabumi, ”Wow”. Tapi sayangnya, kami tidak mempunyai cukup waktu karena sehabis makan siang nanti kita harus sudah kembali ke Jakarta. Bagi saya ini adalah petualangan caving yang pertama, rasanya aneh sekali harus berjalan tanpa alas kaki diatas lumpur yang tebal serta genangan air yang setinggi lutut. Suasana goa yang gelap dihiasi dengan stalaknit dan stalaktit bewarna putih dan terkadang unjungnya seperti berkristal. Untuk menuju goa tersebut kami harus melewati pedesaan, sungai lengkap dengan wanita – wanita desa yang sedang mandi dan pematang sawah yang baru saja panen.

Akhirnya, selepas makan siang rombongan kami pamit untuk pulang ke Jakarta. Terimakasih untuk pak RT yang sudah dengan bersahabat menerima kami di desanya. Karena disana tidak ada angkutan umum yang dapat mentrasfer kami ketempat mobil kami diatas bukit, maka kami pun mecarter sebuah truk hingga ketempat tujuan dan dilanjutkan dengan berjalan kaki. Untuk saya perjalanan ke Pantai Sawarna kali ini akan menjadi perjalanan yang memiliki arti tersendiri, selain dengan perjalanan yang lumayan melelahkan, kehebohan memiliki banyak teman baru, pengalaman menyusuri pantai yang luar biasa serta ikan layur yang membuat saya kecanduan. Perjalanan ini merupakan hasil pe-refleksian diri pribadi, bahwa apapun yang terjadi pada dirimu diwaktu lalu pasti akan selalu ada saat dimana kamu akan menyadari bahwa hidup itu terlalu indah untuk dibiarkan begitu saja.

Sekian cerita panjang trip to Sawarna Beach kali ini, sampai Jumpa lagi pada trip berikutnya yah..

Xoxo.

2 komentar:

Anonim mengatakan...

Sawarna udah.. karimun belum di post bu?
~semangka_merah~

theresiaeugene mengatakan...

udah tuchhh... :)