Kamis, 25 September 2008

15 Maret 2008



Sore ini terasa begitu panjang, hingga magrib pun terasa lama sekali akan ku jelang. Aku lewati menit – menit kedepan ini dengan santai, mencoba nyaman diatas jok yang sekedarnya, menyandarkan kepala dipilar besi yang sudah mulai berkarat, mendengarkan sejumlah penyanyi ternama yang bernyanyi live di telinga ku dan menikmati angin sore yang semilir.

Aku mulai terbawa pada sebuah kisah, ketika aku mencoba meyakinkan sebuah perasaan pada dia yang tanpa kusadari telah kuletakkan seluruh kehidupanku pada hatinya yang bimbang dan tak berpijak. Hingga hari ini berlalu, aku masih saja melihatnya berjalan mengiringiku walaupun tidak. Perlahan – lahan kalimat – kalimatnya terngiang jelas di telingaku dan bayangan waktu lalu semakin tergambar jelas bersandiwara di ingatanku.

Malam ini tidak seperti biasanya, kami melewatinya dengan segala keterbatasan emosi dan pikiran – pikiran yang tak tidak bisa di kamuflase lewat kedua wajah kami. Wanitanya, meleburkan seluruh emosi sakit hatinya kedalam teriakan, cacian dan pukulan. Aku memeluknya dengan perasaan yang berkecamuk dan menjadi sulit untuk dijelaskan.

”aku pasrah jika ia inginkan aku pergi dari hidupnya”.

Kuhentikan kalimatnya dengan kedua tanganku yang kutempatkan disamping wajahnya menggenggam wajahnya yang kecoklatan, tirus dan berbola mata cokelat itu. Aku mencoba meyakinkannya untuk tidak mengatakan itu semua disaat kebimbangan dan ketidak kuasaannya memeluknya erat. Aku cukup lama menatapnya hingga wajah kami begitu dekat dan deruan nafasnya yang kacau terasa diwajahku dan tercium pekat di hidungku.

Nafasku tersengal, kami meleburkan semua kekacauannya dan kebimbanganku pada sebuah kedekatan birahi yang menggelora. Dan ketika keindahan dari deru – deru emosi yang bertautan itu tercipta, kami terhenti untuk beberapa saat dan menikmatinya. Ketika nadi – nadi melonggar dan aliran darah mengalir dengan semestianya, aku mendengarnya berbisik ditelingaku tentang sebuah pilihan yang tak bisa dia pastikan.

”aku tau ini semua diluar rencanaku, perasaanku telah terbagi dan kamu adalah sebagian dari bagian itu”

Kuusap rambut hitamnya yang pekat, kuperhatikan dia yang memerah dan bermandikan keringat lelah. Matanya menerawang, untuk pertama kalinya aku mendapati pikirannya yang tak bisa terbagi, bertabrakan dan tak berbentuk. Aku berbisik memanggilnya, matanya menatapku dengan rapuh. Kuusap wajahnya yang bercahaya redup itu dan kukatakan padanya bahwa semuanya akan baik – baik saja. Untuk beberapa saat dia hanya menatapku dan mendekatkan wajahnya kearahku. Dia memberikan ku sebuah kecupan hangat di kening sebelum akhirnya dia meminta maafku untuk pergi melihat wanitanya.


Aku dalam perjalanan pulang.
Dia sudah lebih baik.
Sender: Bayu 0813213500
Sent: 15/03/08 10:15:15


Sejak semalam, aku tidak bisa berhenti meracau dan bergaduh bersama seluruh perasaanku dan pikiranku tentangnya. Aku ingin sekali berteriak seperti wanitanya tentang sebuah perasaan yang sedang meluap –luap akan kata cinta yang begitu sederhana. Bicara padanya akan sebuah pilihan yang dapat membuatnya bahagia dan meyakinkannya bahwa dia berhak menjadi bahagia tanpa sebuah belenggu prinsipal kepercayaan yang dikorbankan untuknya.

Aku kembali menjadi sebuah pahlawan palsu dihadapannya, mencoba mendengarkan ceritanya dengan wajah tak bergeming tak memberontak. Kalimat per kalimat kuresapi dan kumainkan dengan empatiku yang telah kuletakan pada hidupnya. Kulengkapi akhir ceritanya dengan sebuah senyuman dan tatapan yang dengan sekuat tenaga kuusahakan agar dia tetap yakin bahwa aku akan baik – baik saja.

Bayu meraih tanganku, senyumanku masih tertahan rapih diwajahku yang perlahan mulai menujukan ketidakmampuanku atas sebuah perasaan yang hanya menjadi sebagian dan kepastian yang tak berujung pasti.

”kamu tau, aku pun bisa menjadi rapuh jika itu bisa membuatmu tinggal”

Entah bagaimana kata – kata itu keluar dari mulut dan bagaimana caranya kelopak mataku menjadi bendungan yang tak berfungsi. Aku menatapnya bersama gelinang – gelinang air mata yang kupikir sudah kuhabiskan tadi malam. Dia menatapku dengan raut wajah yang tak pernah menduga akan keberadaanku yang sebenarnya. Ku ulangi lagi kata – kata itu dengan lebih keras, dan dia menghentikanku dengan sebuah pelukan kencang.

”jangan, jangan lakukan itu anjani.. maafkan aku. Maafkan aku.”

Tangisanku menjadi, meracau dan mengulangi kembali kata – kata itu hingga nafasku mulai tersengal karena sesak. Untuk pertama kalinya aku memohon pada seorang pria yang telah dimiliki jauh sebelum aku memasuki kehidupannya. Memohon dan mencoba meyakininya hingga putus asa agar iya mampu untuk memilih kebahagiaannya. Dia melepaskan pelukannya dan menepatkan kedua tangannya disamping kedua pipiku. Dihapusnya gelinang – gelinang ini dan tersenyum kepadaku sambil mencoba menyadarkanku akan seseuatu hal yang beharga dariku.

”berjanjilah padaku, untuk tidak menjadi rapuh akan apapun. Jangan pernah menjadi mereka kebanyakan, anjani. Aku mencintai kekuatanmu dan keceriaan yang selalu mengisi hari – hariku”

Tiba – tiba aku merasa telah terbentur sesuatu. Kucoba meraba kepalaku yang terbentur pilar besi tempatku menyenderkan kepalaku. Sepertinya aku tertidur sepanjang perjalanan, bis yang tadinya dipenuhi oleh orang – orang yang usai berjibaku dengan waktu perlahan mulai sepi, tampak tidak ada lagi yang berdiri bergelantungan. Sementara diluar matahari kini hanya meninggalkan sisa – sisa sinarnya yang berwarna jingga. Aku melongok kearah depan, sambil mereka – reka jarak tempatku berhenti. ”sebentar lagi” kataku.

Ku geser diriku ketempat duduk yang dekat dengan pintu keluar bis ini. Angin sore hari makin terasa mendingin, dan kencangnya menyibak rambutku yang tak terikat ini. Bis berhenti sesaat menaikan penumpangnya di halte cilandak. Seseorang duduk disampingku, angin membawa wangi tubuhnya dengan cepat ke hidungku. Aku kenal sekali wangi ini, hugo boss.

”pondok labu.. pondok labu..”
”tack.. takk.. kiri bang”

Aku memasang kembali headphone yang sempat terlepas ketika turun bis. Berdiri dijalan raya menunggu mikrolet 105, sambil bersenandung dan mengamati mobil – mobil yang bersliweran. Sampai akhirnya, sebuah plat luar daerah jawa yang tertempel pada sebuah hardtop putih lewat melintasi jalan raya yang sedang kuamati. Aku berdeham panjang sambil merogoh handphoneku.

“hum.. Find by name – B – Bayu – Check – Delete – Yes. To much about him”.

Itu lebih baik,
Berdiri disini tanpa memilikimu
Membiarkan sesak mengambil nafasku
Untuk akhinya kembali hidup dan menari
Sepi ini akan berangsur pergi
Lelah ini akan membawa hasil
Aku tau Dia tidak akan menutup indranya
Raut wajah malaikat tak bersayap
Akan datang meyakinkanku
Tentang taman eden yang berkilau
Rinduku telah selesai
Dia menuliskannya untukku.

Selasa, 23 September 2008

setelah tadi malam

Masih diruang 3x4 dengan dominasi kayu dan dua orang yang kekenyangan nasi ayam kabita otista gwe berhasil merilis salah satu bentuk pemograman masal yang sepertinya agak telat untuk membuatnya nyata dalam hidup gwe.

setelah tadi malam, hari ini kurang lebih jauh lebih baik. Dari segi perut, bisa dibilang hari ini gwe beruntung. Makan siang tangan kosong di salah satu rumah makan peranakan di bilangan cikini dan malamnya kembali mengulang sukses seperti malam sebelumnya special dinner di pantry bersama segelintir pasukan kelaparan dengan nasi ayam kabita.

"heh, jangan kelamaan tuh dipanasinya.."
"akh.. baru lima belas menit"
"budonnnggg.. kering dah tuh ayamnya.."
"Hehhhhh!! samosa gwe tuh!!"
"duuuuhhh, gangu deh tuh suara.."
"tangan lu tuh, lebih ganggu!!"
"tuh.. tuh.. liat, liat.. bukan gwe kaaann?"
"aaaccccchhooooookk....."
"heemm, so bright here.." hampir aja campuran nasi, ayam dan sambal terasi yang telah teradon dengan lumat muncrat ke muka polos sulis (ups, lebih tepatnya ceng-ok). Persis setan indonesia, datang tidak dijemput pulang tidak diantar dia nongol tiba - tiba dipintu pantry dengan sebuah prolog yang menurut sulis dan buyung'angha (read: gaya singaporean) mencoba nge-JOK.

"hhhmm so bright in here??"

sepakat lewat jalur telepati kita berempat menatap bolam - bolam lampu yang berjajar rapi di langit - langit pantry untuk kemudian saling bertatapan. Agak hiperbola sih, enam lampu sorot kecil dibilang terlalu terang. Tiba - tiba salah seorang yang duduk di pojok meja mengatakan hal yang membuat achok langsung berinisiatif mematikan lampu dan menyisakan dua cahaya tepat diatas kepala gwe dan sulis.

"candle light dinner.. " satu kedipan jane ke buyung'anha (read:gaya singaporean)

mungkin inilah bentuk perasaan buyung'angha (read:gaya singaporean)
"jangan nengok.. jangan nengok.. datang tak dijemput pulang tak diantarrr....akkkkkkkhhhh"
"heh!wirit express lu ha'.."
"ngehe pake k lu, demi gigolo yang gak laku - laku di mahakam. Lu gak liat apa ha', giginya berkedip ha'!!"

Sontak, pantry riuh mendengar celoteh buyung'angha (read:gaya singaporean) sementara dia si datang tak dijemput pulang tidak diantar perlahan mengundurkan diri tanda tak mampu mentranslate gong-gongan kami.

"aaaaaaaaaaauuuuuuuuuuuuu......"

p/s: malam ini ada fireworks bos, "you smoke with the boys ha' (read: gaya singaporean)".