Rabu, 08 Oktober 2008

Padang - padang, Impossible beach dan di kejar anjing BALI

Setelah kemarin lelah menjelajah bali sekitaran kuta sampai tirta empul, belanja-belanji di sukawati dengan kostum orange2x dan makan ikan2x segar di Bepaseh-Denpasar, rute melancong kami hari ini adalah padang – padang beach, impossible beach dan factory outlet di bypass, Bali, sebelum tinggal landas ke Jakarta sore nanti.

Tepat jam 8 pagi kami check out dari Aquarius hotel yang ber lokasi di Legian, hotel ini direkomendasikan deh buat orang2x yang budget trip. Selain kamar dan kamar mandi yang terawat dengan baik, breakfast di hotel ini juga enak2x (haha.. padahal seringnya kita breakfast pake roti tangkep dan jus). Tepat jam 9 pagi mobil jemputan dan Fafan sang tour guide yang asik datang menjemput. Kami mulai perjalanan kami kearah selatan pulau eksotis itu, tempat pertama yang kami kunjungi adalah pantai padang – padang, bukan padang – padang bay loh yah..
Kalau sampai dengan saat ini baik para turis domestik maupun internasional masih menjadikan pantai Kuta itu sebagi pusat per-beaching-an, tidak begitu dengan saya dan sahabat saya. Budget trip to Bali kali ini kami sengaja melewatkan pantai kuta dan beralih pada pengeksploran pantai – pantai yang belum terkenal di Bali. Pantai padang – padang yang terletak di selatan bali merupakan pantai pasir putih yang belum komersil, ketika kami datang kami hanya melihat beberapa surfer western yang sedang belajar berselancar dan karang – karang besar yang tertata dipinggiran pantai. Air laut yang berwana biru dan begradasi itu memiliki ombak yang cukup tinggi, pastinya dalam beberapa tahun kedepan padang – padang akan menjadi the 3rd kuta beach.. setelah posisi kedua di raih oleh dreamland.

Pintu masuk pantai ini pun terbilang sangat alami, kami harus melwati lorong tebing karang yang lebarnya satu papan selancar. Tanda masuknya pun hanya berupa tulisan dan gambar tanda panah. Kami cukup lama menghabiskan waktu di pantai pantai padang – padang, disana kami menemukan tempat terpencil untuk bisa merasakan autis dan narsis bertiga. Kami benar – benar terpesona dengan keindahan pantai padang – padang.

Setelah puas menikmati dan menjelajah pantai padang – padang kami melajutkan perjalanan kami ke pantai yang gak mungkin. Sebenernya sih ini rute dadakan, Fafan driver sekaligus fotografer kami baru aja inget kalo disekitar garis pantai selatan Bali itu terdapat sebuah pantai kecil yang keren banget. Perjuangan banget untuk bisa sampai ke pantai yang gak mungkin itu sampai – sampai kita pikir jangan – jangan emang gak mungkin banget kita sampai ke pantai itu. Kita bertiga sempet kesasar dan dikejar – kejar anjing dulu untuk mendapatkan petunjuk dari penduduk lokal. Dan benar, jalan masuknya aja tidak beraspal dan sepanjang jalan kami ditemani dengan pohon – pohon yang rimbun serta sapi – sapi piaraan penduduk.


Akhirnya kami sampai di sebuah ladang milik salah satu penduduk lokal dan kami memarkirkan mobil kami disana. Nampaknya, pantai yang tidak mungkin ini merupakan pantai milik pribadi karena ketika kami berhasil melawati jalan masuk yang sempit, naik turun serta berdampingan dengan hutan itu kami mendapati sebuah rumah yang berteraskan kayu dan menghadap ke laut tepat diujung tebing. Dan benar begitu kita sampai, kita bertiga hanya bisa diam dan kemudian berkata “gileeee... bener!!”. Memang pantai ini lebih dominan batu karang dari pada pasirnya dan kami bertiga perlu ekstra lompat dari karang yang satu ke karang yang lain untuk bisa berleyeh – leyeh menikmati pantai terakhir di Bali.

Kami bertiga tidak terlalu lama menikmati indahnya pantai yang tidak mungkin itu, perut kami sudah berbunyi tanda waktunya makan siang. Sambil menuju bandara kami mampir dulu ke rumah makan nikmat di daerah Tubun, warung makan yang lumayan unik dari segi pembayarannya karena begitu selesai memilih makanan yang kami inginkan, kami diberikan kartu yang merupakan nominal makanan yang harus kami bayar. Setelah makan kami ternyata masih memiliki waktu untuk berbelanja lagi, akhirnya kami putuskan untuk mampir sebentar di Joger.

Tepat jam 4 sore kami berpisah dengan fafan di airport Ngurah Rai, kami berdua berterimakasih sekali kepada fafan yang telah setia melengkapi liburan kami di Bali. Dia merupakan driver, fotografer, guide dan teman yang asik untuk ngetrip. Upss.. hampir lupa, terimakasih juga untuk sobat saya I Komang Budiasa alias KOJEK yang telah sumringah menemani perjalanan kami berdua. So, next trip kita ekplor pantai – pantai di Bali lagi yahhh...

Tidak ada komentar: